Article Detail

MENELADAN SANTO CAROLUS BOROMEUS PELINDUNG SUSTER – SUSTER CB

Santo Carolus Borromeus adalah Uskup dari Tahta Santo Ambrsius (Keuskupan) di Milano yang menyebar luas sampai ke wilayah Lombardia, Venezia, Genoa dan Swiss. Sebagai Uskup, ia tidak pernah lelah menunjukkan kasihnya dan perhatiannya kepada Gereja dengan mengadakan sinode-sinode dan mendirikan seminari-seminari, sekolah dan rumah sakit. Banyak rumah sakit mengambil Nama Orang Kudus ini sebagai Pelindung. Ia sering mengunjungi umat di Keuskupan-nya, membimbing mereka di dalam iman dengan moto-nya: "Humilitas" (rendah hati). Sewaktu ada wabah penyakit pes, ia tidak ragu turun tangan membantu rakyat dengan tangannya sendiri.

Segala jerih payah Uskup Carolus Borromeus membuat dirinya jatuh sakit, ia meninggal dalam usia 46 tahun saja dan meninggalkan kepada rakyat Milan sebuah ingatan akan kekudusan yang berada hanya di bawah Uskup Agung Milan, Santo Ambrosius. Orang Kudus ini juga menjadi Pelindung Milan bersama dengan Santo Ambrosius.


Itu adalah kisah perjalanan secara singkat Santo Carolus Boromeus. Kisah tersebut rupanya memberikan keteladanan bagi Suster – Suster yang bernaung di bawah konggregasi Suster – Suster Cinta Kasih Santo Carolus Boromeus. Kisah Santo Carolus Boromeus telah menjadi inspirasi Suster – Suster Cinta Kasih Santo Carolus Boromeus untuk menjadikan Santo Carolus Boromeus sebagai pelindung konggregasi. Dengan kharismanya, Suster – Suster CB ini meyakinkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang cinta tanpa syarat dan bela rasa dari Yesus Kristus yang tersalib. Oleh karena itu, dalam pelayanannya Suster- Suster CB selalu berprinsip “Yang miskin, yang tersisih dan yang menderita diselamatkan dan dibebaskan dalam Kerajaan Allah.”


Santo Carolus Boromeus adalah pemimpin yang telah memberikan teladan bagi umatnya. Keteladanan yang diberikan oleh Santo Carolus Boromeus nampak pada sikap kepemimpinannya yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk umatnya. Pelayanan yang diberikan harus dilandasi dengan keramahan dan penuh cinta. Dalam kehidupan pelayanan tersebut, Santo Carolus Boromeus juga bersikap hidup sederhana dan tetap mempertahankan kesederhanaannya. Santo Carolus Boromeus juga seorang yang  memiliki kerendahan hati. Segala harta ia miliki, segala pengetahuan ia miliki, namun dengan kerendahan hatinya, Santo Carolus Boromeus mau hidup bersama orang lain yang sedang terkena penyakit. Yang lebih utama adalah Santo Carolus Boromeus meneladan Yesus Kristus sebagai gembala sejati.


Yang bisa kita lakukan sebagai anggota komunitas yang berada dalam naungan karya Suster – Suster CB dalam bidang pendidikan adalah 

  1. Bersikap sebagai pemimpin yang mengutamakan pelayanan pada pada “orang kecil” baik kepada peserta didik maupun masyarakat
  2. Memberikan pelayanan prima pada semua pihak yang terlibat baik peserta didik, orang tua, mitra kerja maupun masyarakat. Pelayanan diberikan dengan                keramahan, senyum dan keterbukaan.
  3. Hidup sederhana, namun layak sebagai manusia yang sewajarnya. Kita diharapkan  terbiasa hidup tanpa kemewahan.
  4. Bersikap rendah hati, tidak menonjolkan diri, dan tidak menunjukkan kelebihan yang tidak penting mendukung dalam pelayanan.
  5. Mengupayakan terwujudnya pendidikan yang berkualitas dan mengarah pada pembentukan karakter manusia seutuhnya.

 

Semoga keteladanan Santo Carolus Boromeus menghidupi karya – karya Pendidikan Tarakanita . Viva Tarakanita

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment